Rabu, 15 Juli 2015

POTRET PEREKONOMIAN NIAS

Mogai Gito (Rubber Collection)
Mogai Gito (Menderes Karet) merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat di Kepulauan Nias. Kegiatan ini bisa disaksikan di pedesaan yang mayoritas penduduknya adalah petani. Sebuah kesempatan bisa melihat aktifitas sehari-hari masyarakat ini ketika melakukan perjalanan ke Gua Togindrawa, desa Lelewonu Nikootano, Kecamatan Gunungsitoli.
Selain menikmati kesejukan alam pedesaan ketika melakukan pendakian, kita juga dapat melihat aktifitas masyarakat sekitar seperti menderes karet, pembuatan batu-bata, mengumpulkan batu dan lainnya.
Menderes Karet merupakan kegiatan sebagian besar petani Nias.  Perkebunan karet di Nias masih bersifat tradisional yang artinya bahwa lahan perkebunan karetnya masih mengandalkan perkebunan karet harta warisan keluarga, sehingga hasilnya masih sangat minim. perkebunan karet di Nias masih campur aduk dengan tanaman lain karena kurangnya pengetahuan dalam mengelola atau kurangnya pendidikan dan juga masih kurangnya penyuluh pertanian.
Saya berharap kepada Pemda agar lebih memperhatikan Petani Karet, baik dalam memfasilitasi bibit unggul berupa havea okulasi, tetap mengadakan penyuluhan dan menstabilkan harga karet dengan cara langsung terjun ke lapangan dan tetap mengontrol harga karet dari tengkulak yang sewenang wenang dalam menawar harga karet.


Senin, 13 April 2015

PENGERTIAN MARKETING

Marketing ( Pemasaran ) mempunyai peranan yang sangat menentukan karena pemasaran mempunyai kedudukan sebagai perantara antara produsen dan konsumen. Pemasaran merupakan suatu urutan-urutan kegiatan yang saling berkaitan erat dan bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia melalui proses pertukaran. Dengan demikian perusahaan dalam menjalankan usahanya perlu memperhatikan dan mengembangkan sistem pemasarannya.
Masalah pemasaran merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi perusahaan untuk menjalankan roda perusahaannya, karena tidak jarang perusahaan gagal mencapai tujuannya disebabkan sistem pemasaran yang kurang tepat. Untuk lebih jelasnya Philip Kotler (1997:8) menyatakan :
“ Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain .”
Kegiatan pemasaran tidak dapat dipisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan usaha perusahaan karena didalamnya terdapat banyak bagian-bagian yang harus dimengerti dan dilaksanakan khususnya oleh seorang pemasar/lembaga pemasaran. Sedangkan pengertian menurut William J. Stanton (1993:7) yaitu :
“ Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa baik kepada konsumen saat ini maupun konsumen potensial “.

Sabtu, 11 April 2015

Pariwisata Nias

Pantai Ladeha 

Pantai yang penuh pesona ini terletak kira-kira 2,5 Km dari Kota Kecamatan Amandraya yang ada di Nias Selatan.
Dulu Masyarakat Lokal sering menyebutnya "Ladeha = Lala Donu Harazaki" dan sekarang wisatawan sering mendengarnya sebagai Pantai Ladeha, Pantai ini hampir keseluruhan bernuansa karang yang penuh misteri.
Sungguh pantai ini sebenarnya merupakan Primadona pantai yang sedikit berbeda yang dimiliki oleh Pulau Nias pada sisi pantai barat. Namun sangat di...
Lihat Selengkapnya

Wajah Nias





 Keindahan Alam Pantai Pulau Sipika =
Kepulauan Batu - Nias bagian Selatan.
Surga dunia bagi Penikmat Panorama Pantai.
Sudahkah anda pernah berkunjung ke tempat ini ???
Mari mempromosikan daerah Wisata Nias kita...
Photo by Nefost Lature

Jumat, 03 April 2015

KEWIRAUSAHAAN DAN EKONOMI KREATIF

Konsep Ekonomi Kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang penopang utamanya adalah informasi dan kreativititas dimana ide danstock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor produksi utama dalam kegiatan ekonomi. Perkembangan tersebut boleh dikatakan sebagai dampak dari struktur perekonomian dunia yang tengah mengalami gelombang transformasi teknologi dengan laju yang cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) diikuti menjadi berbasis Sumber Daya Manusia (SDM), dari era genetik dan ekstraktif ke era manufaktur dan jasa informasi serta perkembangan terakhir masuk ke era ekonomi kreatif. Namun demikian konsep tentang ekonomi kreatif, rupanya bukan konsep yang sama sekali baru, secara tersirat dalam risalah klasiknya tahun 1911, melalui Theorie der wirtschaftlichen Entwicklungen (Teori Pembangunan Ekonomi), Schumpeter mengusulkan sebuah teori tentang “creative destruction”. Teori ini menyatakan bahwa perusahaan baru dengan spirit kewirausahaan muncul dan menggantikan perusahaan lama yang kurang inovatif. Fenomena ini selanjutnya mengarahkan dinamika kehidupan dunia usaha ke tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Mungkin yang berbeda saat ini, konsep tentang ekonomi kreatif nampak lebih eksplisit yang menandai era baru peradaban dan terdefinisikan dengan baik, serta secara faktual ekonomi kreatif merupakan fenomena dan tren pilihan alternatif terutama dalam memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi global di era millenium ke tiga ini.  Untuk itu Department of Culture, Media, and Sport (DCMS) mendefinisikan Industri kreatif sebagai: “Creative Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content (Creatif Industries Task Force, 1998). Secara lebih lugas Howkins mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi dimana input dan outputnya adalah gagasan. Atau dalam satu kalimat yang  singkat, esensi dari kreativitas adalah gagasan. Agaknya baik konsep kewirausahaan maupun konsep ekonomi kreatif terdapat unsur benang merah yang sama, yakni terdapat konsep kreativitas, ide atau gagasan serta konsep inovasi. Kreativitas adalah proses berfikir dan menggugah inspirasi dengan cara yang berbeda dari biasanya, dimana seseorang tertantang untuk  dapat melahirkan suatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Kreativitas dalam bisnis adalah bagimana cara menerapkan kreativitas dalam pekerjaan yang sedang kita lakukan agar  dapat memunculkan produk, prosedur dan struktur baru sekaligus meningkatkan cara kerja kita kearah yang lebih baik. Apa yang dibutuhkan oleh bisnis adalah penerapan proses kreatif pada masalah, isu, kesempatan dan peluang yang ada pada saat ini. Sementara produk kreatif, adalah kemampuan untuk melahirkan sesuatu benda atau hal yang sebelumnya sama sekali belum ada untuk dipergunakan. Ide yang kreatif dikaitkan dengan ide yang baru, yakni paling tidak untuk orang yang bersangkutan ide kreatif ini dapat melibatkan sebuah usaha penggabungan dua hal atau lebih ide-ide secara langsung (John Adair, 1996) Adapun Inovasi adalah proses menemukan atau mengimplementasikan sesuatu yang baru ke dalam situasi yang baru. Konsep kebaruan ini berbeda bagi kebanyakan orang karena sifatnya relatif, yakni apa yang dianggap baru oleh seseorang atau pada suatu konteks dapat menjadi sesuatu  hal lama bagi orang lain dalam konteks lain. Inovasi adalah memikirkan dan melakukan sesuatu yang baru dan menambah atau menciptakan nilai atau manfaat baru dalam perspektif sosial-ekonomik. Untuk menghasilkan perilaku inovatif, seseorang harus melihat inovasi secara mendasar sebagai proses yang dapat dikelola (John Adair,1996), yang merupakan bagian penting dalam keunggulan bersaing. Inovasi biasanya melibatkan lebih dari satu orang, yang mengisyaratkan adanya kegunaan dan keuntungan yang ingin diraih dan dimiliki oleh sebagian besar organisasi. Namun demikian, ide adalah dasar dari inovasi, dan ide berasal dari individu yang kreatif, maka individu yang kreatif dapat membantu orang lain menjadi kreatif pula, sehingga ide dapat diperoleh dengan lebih banyak dan lebih baik sebagai masukan bagi proses inovasi. Kreativitas dan inovasi berada pada wilayah domain yang sama, tetapi secara definitif memiliki batasan yang tegas. Kreativitas merupakan langkah pertama menuju inovasi  yang terdiri atas berbagai tahapan. Kreativitas berkaitan dengan produksi kebaruan dan ide yang bermanfaat, sedangkan inovasi berkaitan dengan produksi atau adopsi ide yang bermanfaat untuk diimplementasikan.
Bertolak dari fakta dialektika siklus sejarah dan siklus peradaban, senantiasa akan muncul terobosan yang mendobrak kemapanan sebagai faktor terjadinya dis-ekuilibrium, yang didorong vitalitas dan kreativitas yang memicu lahirnya ide dan inovasi sesuai ciri jamannya.  Alvin Toffler dalam bukunya yang berjudul The Third Wave menyebutkan bahwa ada tiga era di dalam dunia ini, pertama era pertanian, kedua era industri dan terakhir adalah era informasi. Era industri dimulai ketika James Watt menemukan mesin uap – sebagai ide inovatif – yang pada akhirnya mampu menggerakkan mesin-mesin berat  yang kemudian merubah seluruh tatanan kapitalis yang ada pada saat itu. Seiring dengan semakin cepatnya perkembangan teknologi, informasi semakin memegang peranan penting dalam perkembangan zaman sehingga dibutuhkan suatu sistem yang menangani perpindahan informasi bukan saja harus akurat tetapi juga harus cepat. Perpindahan informasi yang sangat cepat antar individu menjadi titik dimulainya zaman baru yang dinamakan era informasi. Pada era informasi, mobilitas dan aksesibilitas informasi perlu dibarengi dengan infrastruktur terkait yang berfungsi sebagai penggerak zaman baru. Dalam upaya mengantisipasi perkembangan yang sangat cepat di bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT), maka  bangsa Indonesia pun tidak mau ketinggalan  oleh derap kemajuan tersebut, yaitu bersaing untuk memiliki sistem jaringan  ICT yang terpadu dan menyeluruh.  Terpadu artinya mencakup seluruh bidang dan aspek yang ada dalam kehidupan sehari-hari, dan menyeluruh berarti sistem jaringan ICT ini dapat diakses oleh setiap orang tanpa terkecuali.  Revolusi ICT ini telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan dan banyak orang percaya hal ini akan menjadi suatu periode sejarah yang penting dibandingkan dengan revolusi industri, dengan tidak menganggap remeh dampak yang diakibatkannya. Di dunia barat sendiri, memang tengah terjadi pergeseran orientasi ekonomi,  dengan alasan yang cukup jelas, yaitu telah menyusutnya lahan pertanian dinegara maju,  dibarengi standar hidup yang tinggi menyebabkan biaya operasional pabrik besar dinegara-negara maju menjadi semakin mahal sehingga pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, mesin-mesin canggih yang optimal akan sangat membantu mengurangi biaya-biaya manusia. Teknologi informasi pun telah mampu meratakan dunia dan bahkan melipat dunia, melintas batas-batas jarak dan waktu. Negara-negara maju secara gegap gempita mencanangkan lahirnya era globalisasi. Dengan mengandalkan kekuatan modal besar, negara maju dapat mendirikan pabrik-pabriknya di negara lain yang tenaga kerjanya lebih murah, dan tentu saja negara maju tidak perlu lagi disesaki dengan asap polusi industri dan limbah industri. Hal ini didukung oleh pendapat  pakar Richard Florida bahwa: ”kita (bangsa Amerika) walaupun masih memiliki, tetapi tidak lagi dapat mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) dan supremasi industri manufaktur, dimana Jepang dan Cina telah sukses menciptakan efisiensi dalam bidang manufaktur dengan biaya operasional yang sulit ditandingi”. Dari realitas ini dan penelitian-penelitian statistik canggih, maka mereka telah berhasil mengidentifikasi bahwa konsep dan gagasan kreatif merupakan modal baru bagi perkonomian di negara-negara maju. Setelah diteliti ternyata ekonomi kreatif telah mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Munculnya konsep ekonomi kreatif, merupakan perkembangan lebih lanjut dari tumbuhnya ekonomi diseputar industri kreatif, sebagaimana dikatakan Howkins, bahwa ekonomi baru telah tumbuh di seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti dan desain. Dengan demikian, ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep yang berlandaskan sumber aset kreatif yang telah berfungsi secara signifikan meningkatkan pertumbuhan potensi ekonomi.  Di Indonesia sendiri, PDB industri kreatif menduduki peringkat ke-7 dari 10 lapangan usaha utama yang ada. PDB industri kreatif saat ini masih didominasi oleh kelompok fesyen, kerajinan, periklanan, desain, animasi, film, video dan fotografi, musik, serta permainan interaktif. Agaknya Indonesia perlu terus mengembangkan industri kreatif dengan suatu alasan, bahwa industri kreatif telah memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Selain itu, industri kreatif menciptakan iklim bisnis yang positif dan membangun citra serta identitas bangsa. Di pihak lain, industri kreatif berbasis pada sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa serta memberikan dampak sosial yang positif.
Dari dimensi subjek perilaku individual, kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki  kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi.  Daya kreativitas tersebut seyogyanya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini dipasar. Gagasan-gagasan kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius yang memberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil. Namun, gagasan-gagasan yang baikpun, jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, hanya akan menjadi sebuah mimpi. Gagasan-gagasan yang jenius umumnya membutuhkan daya inovasi yang tinggi dari wirausahawan yang bersangkutan. Kreativitas yang tinggi tetap membutuhkan sentuhan inovasi agar laku dipasar. Inovasi yang dibutuhkan adalah kemampuan wirausahawan dalam menambahkan  guna atau manfaat terhadap suatu produk (nilai) dan menjaga mutu produk dengan memperhatikan “market oriented” atau apa yang sedang laku dipasaran. Dengan bertambahnya guna atau manfaat pada sebuah produk, maka meningkat pula daya jual produk tersebut di pasar, karena adanya peningkatan nilai ekonomis bagi produk tersebut bagi konsumen. Oleh karena itu tidak berlebihan jika OECD (1998) mendefinisikan wirausahawan sebagai berikut: “Wirausahawan adalah agen perubahan dan pertumbuhan di dalam sebuah pasar suatu sistem perekonomian yang berfungsi mempercepat penciptaan, penyebaran dan penerapan gagasan-gagasan inovatif, sehingga entrepreneurs not only seek out and identify potentially profitable economics opportunities but also willing to take risks to see if their hunches are right”.
Untuk menjadi wirausahawan yang berhasil, maka persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jiwa dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan, atau kompetensi. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman berbisnis. Seorang wirausahawan adalah seseorang yang memiliki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) atau kemampuan kreatif dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut secara  riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai berbisnis (start-up), kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemauan dan kemampuan untuk  mencari peluang (opportunities), kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan meramu sumber daya yang tersedia.   Kemauan dan kemampuan tersebut diperlukan terutama untuk:
1.      Melakukan proses/teknik baru (the new technique);
2.      Menghasilkan produk atau jasa baru (the new product or new service);
3.      Menghasilkan nilai tambah baru (the new value added);
4.      Merintis usaha baru ( the new business) yang mengacu pada pasar; dan
5.      Mengembangkan organisasi baru (the new organization).
Hal ini sejalan dengan ciri munculnya kelompok wirausahawan inovatif sebagaimana disinyalir Schumpeter, sebagai reaksi terhadap kubu perusahaan berskala  besar yang  resisten terhadap perubahan, sebagaimana ditulis dalam risalah klasiknya tahun 1942, Capitalism and Democracy, dimana situasi memaksa para wirausahawan untuk memulai mendirikan perusahaan baru dalam mewujudkan kegiatan inovatif. Dengan demikian fungsi para wirausahawan adalah melakukan pembaruan atau merombak pola produksi dengan menggali suatu invensi (penemuan dan pendekatan yang benar-benar baru), atau secara lebih umum, menerapkan suatu teknologi yang belum pernah digunakan untuk menghasilkan produk baru atau produk lama melalui suatu cara yang baru. Pada umumnya untuk mengimplementasikan hal-hal baru ini relatif sulit dan merupakan suatu fungsi ekonomi yang berbeda namun nyata. Pertama, karena hal tersebut berada di luar kebiasaan dan tugas rutin, dan kedua, terdapat tantangan dari lingkungan yang bersifat resistan. Dengan demikian, kegiatan wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses. Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi.  Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar. Gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius yang menghasilkan terobosan baru dalam dunia usaha dilandasi oleh gagasan kreatif yang tadinya dianggap mustahil. Namun perlu disadari pula, bahwa konsep perubahan bersifat relatif, apa yang dipersepsikan sebagai perubahan bagi seseorang atau organisasi belum tentu mencakup sebuah praktik baru bagi industri. Atau hal itu merepresentasikan perubahan untuk industri domestik, tetapi bukan untuk industri global. Oleh karena itu, konsep kewirausahaan melekat dalam cakupan lokal (local context). Pada waktu yang bersamaan, nilai kewirausahaan dibentuk pula oleh kemauan melakukanbenchmark  secara relevan. Aktivitas kewirausahaan yang dianggap ‘baru’ menurut seseorang, tetapi bisa saja ‘tidak baru’ bagi perusahaan atau industri, yang mana kesemua hal ini bisa membatasi nilai inovatifnya.
Menurut pakar Richard Florida, adalah tidak cukup bila pihak swasta dan pemerintah hanya berfikir untuk membangun kawasan industri yang canggih, kemudian dengan sendirinya akan segera tercipta suatu lingkungan kreatif yang kondusif. Dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan lebih, untuk mampu melihat penciptaan ekonomi dari beberapa sudut, yaitu dari sudut ekonomi itu sendiri, dari sisi teknologi dan dari sisi artistik & kreatif. Disetiap daerah yang memiliki tingkat ekonomi tinggi seyogyanya memiliki karakter-karakter yang terdiri dari 3 komposisi ini. Oleh karena itu maka Florida menawarkan konsep 3T, yaitu: talenta, toleransi dan teknologi. Pertama,talenta, yaitu untuk menghasilkan sesuatu yang berdaya saing, dibutuhkan SDM yang baik dengan sejumlah potensi bakat atau talenta. Orang dengan talenta tinggi pada gilirannya akan memiliki penghasilan tinggi dari gagasan-gagasan kreatifnya. John Howkins menyebut mereka sebagai orang-orang yang hidup dari penciptaan gagasan dan mengeksploitasinya dengan berbagai cara. Florida mengklasifikasi kelas ini, ada yang bernuansa latar belakang akademik (universitas), ada yang berorientasi teknologi, ada yang bernuansa artistik (bohemian), pendatang (imigran & warga negara keturunan etnis tertentu) dan bahkan sampai pada yang bernuansi orientasi sex. Tom Peters dengan gayanya yang khas dan nada humor mengatakan: bila anda ingin inovatif, gampang saja, bergaulah dengan orang-orang aneh dan anda akan bertambah kreatif. Akan tetapi jika anda bergaul dengan orang-orang yang membosankan, anda akan semakin membosankan juga. Kedua,toleransi, sebelum era ekonomi kreatif ini teridentifikasi, orang beranggapan bila ingin mendapat pekerjaan sebaiknya pindah kesuatu daerah dimana terdapat konsentrasi kawasan industri (aglomerasi). Boleh jadi pendapat tersebut tetap berlaku, namun Florida mengatakan, bahwa saat ini lapangan pekerjaan akan tercipta justru di tempat-tempat dimana terdapat konsentrasi yang tinggi dari para pekerja kreatif, bukan kebalikannya. Orang dengan talenta tinggi memiliki daya tawar yang tinggi. Mereka memiliki banyak alternatif karena permintaan tinggi. Bila mereka ditawari pekerjaan di daerah-daerah yang sepi dan membosankan, mereka cenderung akan menolak, maka yang lebih berkepentingan adalah “user” dari pekerja kreatif ini dan user akan mengalah, asalkan mereka mendapat SDM yang berkualitas. Bahkan dengan perkembangan internet, maka para pekerja masa kini tidak perlu masuk ke kantor, cukup bekerja jarak jauh baik di cafe maupun di rumah mereka. Seperti yang dianalogikan oleh Tom Peter berikut ini: bayangkan anda membangun sebuah stadion olah raga yang sangat canggih disuatu kota, tapi tidak ada kelompok sepak bola yang handal dikota itu. Apakah penonton akan datang ke kota tersebut untuk melihat pertandingan yang tidak bermutu? Tentu tidak. Apa hubungannya dengan toleransi? Ini berkaitan dengan iklim keterbukaan. Bila suatu daerah memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap gagasan-gagasan yang gila dan kontroversial, serta mendukung orang-orang yang berani berbeda, maka iklim penciptaan kreativitas dan inovasi akan semakin kondusif, karena para pekerja kreatif dapat bebas mengekpresikan gagasannya. Termasuk dalam toleransi adalah kemudahan untuk memulai usaha baru dan ketersediaan simpul-simpul solusi finansial untuk mengembangkan bisnis.  Ketiga, teknologi, agaknya teknologi sudah menjadi keharusan dan berperan dalam mempercepat, meningkatkan kualitas dan mempermudah kegiatan bisnis dan berinteraksi-sosial. Dewasa ini semakin banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh teknologi, dimana manusia adalah operatornya yang lebih banyak memiliki waktu untuk memikirkan gagasan-gagasan baru. Jika pernyataan ini saya balik, maka menjadi demikian: semakin manusia direpotkan oleh aktivitas fisik dan tidak dibantu oleh teknologi, maka sebagian besar waktu manusia akan habis terbuang untuk urusan teknis. Pendeknya, teknologi akan menunjang produktivitas. Dengan demikian, kemudahan mengakses dan membeli teknologi, transfer teknologi adalah faktor penting dalam pembangunan ekonomi kreatif.  Dari uraian diatas semakin jelas, bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat dan saling keterkaitan antara kewirausahaan dan penciptaan pertumbuhan ekonomi kreatif. Suatu perkembangan industri kreatif dan pertumbuhan ekonomi kreatif dapat berlangsung, jika ditopang dan dinafasi oleh para wirausahawan sejati yang kreatif dan inovatif. Kenapa tidak? Kita tularkan virus kreatif – atau virus n’ach versi David Mc’Clelland yakni kepada para pelaku dunia koperasi dan UKM, dan sektor lainnya agar tergugah, tidak ketinggalan pula dunia pendidikan agar segera mengambil langkah kepeloporan, dengan mengubah gaya pembelajaran yang lebih menstimulasi kreativitas.
Last but not least, sebagaimana dikatakan pakar Richard Florida, bahwa insan kreatif bertalenta dapat muncul antara lain dari mereka yang berlatar-belakang akademik. Beranjak dari pendapat ini, suatu tantangan bagi para alumni suatu perguruan tinggi, baik ia selaku tenaga pendidik, peneliti, rohaniawan dan manajer serta juga para usahawan, kalangan birokrat dan militer untuk mampu membuktikan dirinya sebagai wirausahawan yang tangguh serta berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, negara, dunia dan bahkan kehidupan alam semesta.

SUMBER DAYA MANUSIA BERTALENTA

Banyak pihak merasa khawatir dengan kondisi dan situasi perekonomian di Indonesia, yakni kecenderungan akan berjalan ke arah yang kurang tepat dan apabila tidak berhati-hati maka hal ini akan mengarah pada kemunduran. Bahkan identik seperti pada masa penjajahan belanda di mana Indonesia menjadi produsen sumber daya alam dan importir produk manufaktur. Akibat kondisi ekonomi yang semakin tergantung pada pihak luar negeri, dihawatirkan Indonesia hanya akan menjadi penonton di tengah-tengah kebangkitan ekonomi Asean. Memang berbagai data ekonomi yang dilansir dari Biro Pusat Statistik ataupun Bank Indonesia, secara umum menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi makro ataupun pasar keuangan secara umum cukup terjaga yang ditunjang oleh pelbagai indikator ekonomi makro lainnya yang relatif cukup baik.  Akan tetapi jika lebih jauh diamati dengan seksama, khususnya yang berkenaan faktor-faktor pendukung kinerja yang baik tadi, kita perlu waspada karena dari sisi kualitas ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif  rendah dan rawan. Tanda-tanda dari pembangunan ekonomi Indonesia berjalan kurang terarah, diantaranya adalah stabilitas ekonomi makro yang dianggap baik itu ternyata lebih banyak didukung oleh dana jangka pendek yang besar, yaitu hot moneyyang masuk ke Indonesia yang diperkirakan lebih besar dari cadangan devisa yang tersedia di Bank Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dana jangka pendek memiliki tingkat volatilitas yang tinggi, yakni rawan untuk berbalik arah, sehingga tidak dapat diharapkan keberlanjutannya untuk mendukung stabilitas ekonomi makro. Situasi  ini jika tidak cepat diatasi dapat menciptakan instabilitas ekonomi makro - terlebih karena arah ekonomi Indonesia yang semakin liberal - dimana krisis ekonomi akan semakin mudah untuk  datang dan pergi. Yakni, dimana krisis yang terjadi di suatu negara akan mudah berimbas kepada negara lain.Harus diakui pula, kenaikan harga sumber daya alam dan produk sektor informal banyak menolong pembangunan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. Oleh karena itu, Indonesia perlu berusaha mengubah pola capital inflow yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang, yakni dengan membenahi semua faktor ekonomi dan non-ekonomi yang terkait agar dapat mendorong masuknya investasi luar negeri ke Indonesia. Rendahnya kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini karena  sebagian besar lebih didukung oleh pertumbuhan konsumsi dan non-tradable commodities atau komoditas sektor informal, yang juga telah membuka peluang penciptaan lapangan kerja. Adapun hal yang membatasi kemampuan tumbuhnya kualitas ekonomi Indonesia, adalah karena mesin penggerak pertumbuhan ekonomi seperti sektor manufaktur dan laju investasi masih belum dapat bangkit kembali. Ketahanan ekonomi Indonesia pada saat ini lebih banyak didukung oleh usaha mikro yang semakin berkembang di mana jumlahnya mencapai lebih dari 50 juta unit. Usaha mikro kecil dan menengah  dengan jumlah itu, mampu menyerap lebih dari 80 persen tenaga kerja di Indonesia, yang mana lebih dari 90 persen-nya berasal dari sektor informal. Rendahnya kualitas pertumbuhan ataupun pembangunan ekonomi Indonesia akan membuat Indonesia semakin sulit bersaing di pasar yang semakin liberal ini. Padahal, Indonesia sudah mengikatkan diri dengan berbagai kesesepakatan untuk membuka pasarnya, dengan WTO, APEC ,AFTA ,ASEAN-China  dan sebagainya. Hal ini membuat persaingan bisnis dan persaingan antar negara akan semakin ketat karena the world is flat, begitu kata Tom Friedman. Rendahnya kualitas pembangunan ekonomi  merefleksikan juga rendahnya daya saing internasional dan/atau global yang akan menghambat peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, keberlangsungan pembangunan ekonomi Indonesia tidak akan berkelanjutan jika kualitasnya rendah. Selain itu, masih ada pekerjaan rumah lain yang tidak kalah pentingnya, seperti pembangunan di sektor sosial (kualitas hidup) dan lingkungan hidup yang juga menuntut segera diperhatikan. Stabilitas ekonomi makro menjadi rawan terhadap guncangan keuangan-moneter, yakni jika aliran dana jangka pendek masih mendominasi cadangan devisa kita. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan dalam pengelolaan ekonomi Indonesia. Kita harus kembali pada prinsip-prinsip dasar ekonomi di mana stabilitas ekonomi makro sebaiknya dibangun atas dasar fundamental ekonomi yang sehat dan kuat, bukan ditopang  oleh dana jangka pendek. Sudah seyogyanya pertumbuhan ekonomi didasarkan oleh  mesin penggerak  ekonomi yang didukung oleh daya saing yang tinggi dengan nilai tambah yang besar, yang untuk Indonesia direfleksikan dengan  tumbuhnya sektor manufaktur dan laju investasi.  Dengan demikian, maka peningkatan daya saing internasional atau global menjadi kata kunci penting. Sebaliknya jika sektor manufaktur dan laju investasi berjalan lambat, maka faktor yang perlu terus didorong adalah menumbuh-kembangkan kemampuan  daya saing sumber daya manusia Indonesia – baik di dunia bisnis dan di sektor pendidikan – guna memobilisasi SDM kreatif bertalenta secara sinergi dan terpadu untuk melakukan terobosan inovatif dalam rangka mempertahankan pembangunan  ekonomi yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, dibawah jalinan kerjasama, koordinasi, integrasi, dan kolaborasi yang sinkron antara pihak pemerintah, kalangan bisnis dan dunia pendidikan.
Pemerintah sendiri menyadari terdapatnya tantangan berupa permasalahan dasar ekonomi jangka pendek dan menengah, yang dikarenakan,yakni (1) relatif rendahnya perrtumbuhan ekonomi pasca krisis, yakni rata-rata hanya 4,5% per tahun,  (2) masih tingginya angka pengangguran yang  berkisar antara 9 – 10%, dan tingginya tingkat kemiskinan sekitar 16 – 17 %, dan (3) rendahnya daya saing industri Indonesia. Oleh karena itu potensi ekonomi kreatif dimunculkan  menjadi tren dan solusi relevan yang diharapkan dapat menjawab tantangan ekonomi Indonesia kedepan, disamping adanya tantangan lain, seperti isu global warning, pemanfaatan energi yang terbarukan, deforestasi, dan pengurangan emisi karbon.  Diharapkn dengan itu arah pengembangan industri kreatif akan menuju pada pola industri ramah lingkungan (green Industry) dan penciptaan nilai tambah barang dan/atau jasa yang berasal dari nilai kreatifitas dan talenta sumber daya manusia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai sumber daya yang terbarukan. Dengan tekad tersebut, pemerintah membuat Rencana Pengembangan ekonomi kreatif Indonesia 2025, yang diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman operasional dan pembuatan kebijakan baru bagi aparatur pemerintah  yang bertanggung jawab terhadap pengembangan ekonomi kreatif. Harus diakui pengaruh industri kreatif terhadap ekonomi Indonesia cukup signifikan dengan besaran kontribusi terhadap PDB rata-rata tahun 2002 -2006 adalah sebesar 6,3 % atau setara dengan 104,6 triliun rupiah (nilai konstan) dan 152,5 triliun rupiah (nilai nominal). Industri kreatif telah mampu menyerap tenaga kerja rata-rata antara tahun 2002 -2006 sebesar 5,4 juta jiwa dengan tingkat partisipasi sebesar 5,8% dari total lapangan kerja yang tersedia. Jika ditinjau dari sisi ekspor berdasarkan estimasi klasifikasi sub-sektor, maka peran ekonomi kreatif terhadap total ekspor rata-rata tahun 2002 -2006 adalah sebesar 10,6%  dan data ini masih dapat dikoreksi. Berdasarkan rata-rata pertumbuhan PDB tahunan 2002 -2006, maka pertumbuhan sub-sub sektor industri  kreatif, ternyata memiliki rata-rata pertumbuhan diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional (5,24%), dengan rincian: (1) musik (18,06%); (2) penerbitan dan percetakan (12,59%); (3) periklanan (11,35%); (4) arsitektur (10,86%) (5) layanan komputer dan piranti lunak (10,60%); (6) televisi dan radio (8,51%) (7) permainan interaktif (8,24%): (8) pasar barang seni (7,65%); dan (9) seni pertunjukan (7,65%). Dengan konsep pengembangan yang matang, sebetulnya  pertumbuhan Industri kreatif ini cukup memberikan harapan yang menjanjikan, apalagi jika dilakukan upaya-upaya yang terencana, teroganisir dan terintegrasi untuk menularkan “virus kreativitas” terhadap seluruh masyarakat dan elemen bangsa agar tercerahkan pikiran dan spiritnya untuk terus mencari terobosan baru baik dalam kerja produktif maupun konsumtif.
                Kembali ke tema utama dari maksud tulisan ini adalah, bagaimana suasana peringatan hari kebangkitan nasional pada tahun ini dapat diartikulasikan kedalam kebangkitan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia secara keseluruhan. Para pendiri bangsa ini telah membuktikan diri sebagai insan-insan kreatif dan inovatif pada era patriotismenya, yang telah mempersatukan wilayah dan bangsa Indonesia yang majemuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Pancasila sebagai falsafah, landasan idiil, dan jalan hidup bangsa Indonesia, dimana Bhineka Tunggal Ika merupakan konsep plurar yang bersifat kreatif-inovatif yang dapat memberi ruang pada pelbagai perbedaan dalam satu kesatuan tujuan. Adanya potensi perbedaan dan pluralisme masyarakat Indonesia, telah dipandang sebagai rahmat dari Tuhan YME yang telah dijadikan landasan yang kokoh bagi negara kesatuan Republik Indonesia. Berdirinya negara Republik Indonesia juga merupakan prakarsa tokoh dari pelbagai suku bangsa, kepercayaan dan agama yang berbeda-beda – juga dengan spektrum pemikiran berbeda - yang telah tercerahkan dalam suatu ide yang mengkristal dalam suatu “titik temu”, yakni suatu kesadaran bagi kemerdekaan dan pembentukan negara Indonesia yang berdaulat, yang didukung pula oleh keunikan raja-raja atau sultan - sebagai warisan sejarah dan budaya - senusantara yang ikut mendukung kemerdekaan bangsa Indonesia. Diawali dengan sering bertemunya para pemuda di tahun 1908, dan menjadi ledakan kemerdekaan di tahun 1945.
Di negara-negara maju adanya pluralisme ini  - ditandai dengan adanya kekayaan perbedaan pemikiran dan disiplin keilmuan – telah menjadi pemicu dan penggerak kemajuan kehidupan di segala bidang. Munculnya masa renaisans di Eropa dimulai dengan sering bertemunya para pematung, ilmuwan, penyair , filsuf, ahli keuangan, pelukis dan arsitek yang berkumpul di kota Florence, dan mereka menempa suatu gagasan dunia baru yang kemudian dikenal sebagai masa Renaisans atau masa Pencerahan. Kota Florence telah menjadi saksi sejarah, yakni sebagai episentrum ledakan kreatif, yang merupakan salah satu era yang paling inovatif dalam sejarah, yang dampaknya masih terasa sampai saat ini. Leonardo da Vinci adalah salah seorang aktor dibalik masa pencerahan ini, ketika para seniman, ilmuwan dan para saudagar mencapai suatu titik temu dan berkolaborasi bersama-sama serta menciptakan salah satu ledakan dahsyat dalam seni dan peradaban yang dianggap paling kreatif di Eropa. Pemahaman baru tentang gerak dan struktur alam semesta dikemukakan Galileo Galilei, begitu juga pemahaman tentang cahaya dan gravitasi yang dihasilkan Isaac Newton, dan sejak itu penemuan-penemuan baru terus bermunculan. Namun pada abad-abad selanjutnya, yang terlihat adalah pertumbuhan spesialisasi ilmu pengetahuan. Disiplin ilmu menjadi terpecah-pecah bagaikan memecah dunia menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil dan spesifik. Kini pemecahan keilmuan kembali menjadi berbalik arah dan hasilnya dapat dilihat di berbagai bidang kehidupan. Tom Friedman dalam bukunya The lexus and The Olive Tree menyatakan “kini tidak seperti era sebelumnya, batas-batas tradisional antara politik, okonomi,sosial-budaya, teknologi, keamanan nasional dan ekologi menghilang”.  
Terdapat tiga hal yang menghilangkan sekat-sekat disiplin tersebut, yaitu adanya kebangkitan dari suatu titik temu pemikiran dan kolaborasi serta pandangan berbagai etnik, budaya dan bangsa. Pertama, didorong oleh kekuatan perpindahan orang (migrasi), dan menurut Peter Drucker migrasi besar-besaran pada abad ke 19 adalah ke tempat-tempat kosong dan tak berpenghuni, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Brazil, atau dari desa ke kota dalam suatu negara yang sama. Adapun migrasi pada abad ke 21 dilakukan oleh orang-orang asing, dalam kebangsaan, bahasa, kebudayaan, dan agama yang berpindah ke negara-negara maju, dan menurut Drucker kecenderungan ini dalam jangka panjang tidak akan berbalik arah. Menurut Frans Johansson, kekuatan itu akan menimbulkan banyak sekali titik temu, kolaborasi dan persilangan budaya dengan gagasan inovatif bagi mereka yang cukup berani menggalinya. Ide-ide dalam persilangan budaya akan lebih mudah diperkenalkan terhadap audiens yang lebih beragam. Hal ini mudah terjadi di dunia bisnis dan seni. Tren perpaduan dan pencampuran berbagai budaya semakin banyak terjadi di bidang film, sastra, musik dan seni, sedangkan dunia bisnis dapat menggali gagasan-gagasan berbagai budaya dengan memahami bagaimana budaya-budaya itu saling berhubungan. Di pusat pertokoan di jalan Fifth Aveneu, Brooklyn Amerika Serikat, ditemui sebuah butik dengan nama Kimera yang menjual gaun “gaya hibrida” yang unik. Sang pemilik bernama Yvonne Chu, bercerita ia mendapat inspirasi tersebut dari pengalamannya ketika dibesarkan di New York dengan orang tua keturunan Cina, dan juga dari perjalanannya keliling dunia. Orang menyukai desain gaun ini di mana perpaduan budaya begitu kentara dalam desainnya. Perrtemuan budaya juga terjadi karena pengaruh demokrasi dan faham kapitalisme, yakni berkurangnya sekat perdagangan internasional dan terbukanya sekat antar bangsa yang telah memicu peningkatan  lapangan pekerjaan dan kesempatan pendidikan bagi para  pendatang  yang berasal dari seluruh dunia.    Kedua, kekuatan konvergensi, yakni dimana ilmu pengetahuan menjadi semakin penting bagi seluruh umat manusia, mengingat semakin banyak masalah yang perlu diatasi daripada masa sebelumnya dan telah banyak menghasilkan penemuan yang berbeda sifatnya dari yang terdahulu. Pada saat ini  akan sering ditemukan seorang insinyur yang berkolaborasi dengan seorang ahli biologi  mempelajari tingkat kerasnya kulit kerang  untuk digunakan sebagai komponon badan tank sampai ke badan mobil. Kita juga akan menyaksikan para ahli kelautan, meteorologi, geologi, fisika, kimia dan biologi berkolaborasi untuk memahami dampak pemanasan global. Temuan baru yang akan mengubah wajah dunia ini akan muncul pada titik temu berbagai disiplin dan tidak dari dalam disiplin-disiplin ilmu itu sendiri. Alan Leshner CEO American Association for the Advancement of science (AAAS) menyatakan bahwa, kebanyakan kemajuan besar dalam penemuan melibatkan berbagai disiplin ilmu, dimana  disiplin ilmu tunggal (mono disiplin) agaknya akan lenyap.
Perubahan ini juga dapat dilihat di perguruan tinggi dengan banyaknya program studi yang memakai tanda sambung dibandingkan sebelumnya, misalnya prodi matematik-fisika, biologi-kimia, geologi-kimia, ekonomi-psikologi dan ekonomi-teknik. Keanekaragaman prodi  kini bersatu untuk meneliti masalah tertentu yang menyangkut lingkungan, bioengineering, pembangunan berkelanjutan, neurologi, ekonomi hijau dan banyak lagi bidang ilmu lainnya. Para ilmuwan yang memahami kekuatan konvergensi itu terus meningkatkan pembentukan tim kolaborasi lintas disiplin. Mereka mengabdikan diri bagi terciptanya masyarakat riset ilmiah baru dengan mengikuti perpaduan yang bermunculan dalam ilmu pengetahuan. Santa Fe institute (SFI) di New Mexico yang didirikan pada tahun 1984 oleh George Cowan telah sukses dalam misi ini. Akhir-akhir ini para ahli biologi misalnya, tengah tekun bekerja dengan para ahli ekonomi dan analis pasar  modal untuk memunculkan gagasan baru tentang perilaku pasar. Menurut Robert Hagstrom, seorang manajer investasi mengatakan “model-model yang kami gunakan untuk menerangkan evolusi strategi finansial sama secara matematis dengan rumus yang digunakan para ahli biologi untuk memahami populasi dari sistem predator - mangsa, sistem kompetisi, dan sistem simbiosis”. Wilayah riset lain yang terkenal adalah fenomena-fenomena dunia kecil yang mencoba memahami dunia nyata melalui mata rantai yang membentuknya. Para ahli ini melihat kesamaan  cara-cara sel tubuh dibentuk, halaman-halaman web terhubung, segmen masyarakat beru terbentuk, dan bahkan bagaimana jaringan sel-sel teroris berinteraksi. Sekarang SFI adalah sebuah lembaga riset swasta independen yang memungkinkan para  peneliti ilmu-ilmu fisika, biologi, informatika, ekonomi, sosial-budaya berkolaborasi. Lembaga riset ini tumbuh dari fakta bahwa ilmu pengetahuan sedang mencapai titik perubahan ke dalam suatu konvergensi. Ketiga, lompatan di bidang komputer, yakni suatu loncatan di bidang penggunaan komputer telah memungkinkan perusahaanPixar tidak hanya menciptakan animasi multi dimensi, tetapi juga memusatkan perhatian pada cerita dan bagaiman cara cerita itu disampaikan. Animasi multi dimensi memberi kemampuan untuk menampilkan aspek emosi dengan cara yang tidak bisa dilakukan animasi dua dimensi. Wajah dan mimik tokoh Shrekmemperlihatkan perasaan dan tidak hanya ekspresi. Penggunaan grafis komputer membuat Pixar dapat memciptakan film-film yang jauh lebih canggih daripada yang bisa dihasilkan oleh animasi gambar tangan. Teknologi komputer memungkinkan Pixar melakukan semuanya dengan cara yang berbeda. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa penemuan microchip sebagai inovasi paling penting dalam lima puluh tahun terakhir. Microchip telah meretas jalan untuk e-mail, world wide web, telepon genggam, telepon satelit, dan televisi. Dengan demikian melalui ketiga kekuatan tadi, yakni perpindahan orang, konvergensi ilmu pengetahuan, dan lompatan penggunaan komputer telah memunculkan lebih banyak titik temu dan kolaborasi yang akan mengubah dunia secara radikal. Sebagaimana pernah dikatakan ekonom Paul Romer (1993), bahwa di dunia yang tengah mengalami keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar, yang juga diiringi jutaan ide-ide kecil telah menjadikan ekonomi tetap tumbuh secara dinamis. Konsep ekonomi kreatif merupakan alternatif konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide danstock of knowledge dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis sumber daya alam beralih menjadi berbasis sumber daya manusia(SDM). Tren ini tentunya menguatkan suatu  kearifan yang menyatakan“tak ada sesuatu yang lebih baik dari seribu makhluk yang semisalnya melainkan manusia itu sendiri”, dan para penganut spiritual menyatakannya dengan ungkapan kata,“sesungguhnya engkau-manusia adalah berlian yang ditatah pada logam alam semesta ini”. Begitulah suara langit telah jauh hari memberi isyarat pada potensi keunggulan sumber daya manusia ini.
            Kembali pada karifan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, ditambah dengan kekayaan jamrud khatulistiwa, sungai, ngarai dan kolam susu, dimana tongkat kayu dapat tumbuh menjadi tanaman, bahtera bumi persada Indonesia ini adalah berkah yang tak terkirakan nilainya bagi bangsa Indonesia. Para pendiri bangsa telah mengolah dan menghamparkan kebun yang baik untuk tumbuhnya aneka-ragam manusia Indonesia yang unggul, dengan tulus mereka sangat sayang dan mencintai masa depan anak cucunya, sehingga infrastruktur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah mereka siapkan, dan begitu juga tanah-air tercinta bumi nusantara yang kaya dan subur ini. Sayangnya beribu anugrah ini malah  telah menina-bobokan sebagian besar bangsa Indonesia, dan tidak membangkitkan semangat seperti di awal kemerdekaan, atau ketika bangsa Indonesia mengalami masa keemasan di zaman Singosari, Majapahit dan Sriwijaya, yang telah memotong kuping utusan Kubilai Khan, dan mengusir pasukan yang datang sesudahnya. Kemerosotan kehidupan berbangsa dewasa ini diakibatkan karena kita kehilangan hubungan dengan masa lalu kita, sebagai suatu matarantai kesinambungan sejarah, mungkin kita berhutang terhadap cita-cita leluhur para pendahulu masa lalu kita, kadang yang sering diremehkan dengan berbagai konotasi keterbelakangan, kebodohan, bahkan mungkin dikatakan sebagai manusia “primitif”. Sehingga tanah air yang kaya-raya ini tidak menjadikan berkah, bahkan cenderung menjadi musibah bagi para penghuninya. Padahal, menurut psikolog Jung, masa lalu adalah endapan bawah sadar kita yang menjadikan kehidupan kita menjadi seimbang sebagai bagian dari keutuhan dan keunikan jati diri kita. Inilah sumber kreativitas dan inovasi, yang nafas dan spiritnya berada di relung hati dan batin bawah sadar kita, sehingga apabila yang bawah sadar dan kesadaran kita mencapai titik temu, akan tumbuh pencerahan yang luar biasa. Sebagaimana juga Nabi Musa yang berhasrat mencari pencerahan ilmu, kemudian diperintah Tuhan menemui Khidir di titik pertemuan antara dua lautan. Maka ujungnya kesemua hal ini harus dikembalikan pada dunia pendidikan. Dikatakan oleh Howard Gardner bahwa kita perlu melaksanakan praktik pendidikan yang baru. Selama ini kita mungkin mengira bahwa mendidik kaum muda yang bisa membaca, asik dengan seni, mahir membuat teori ilmiah adalah hal yang baik sementara kondisi dunia terus berubah secara signitifan, berbagai sasaran, kemampuan dan praktik mungkin tidak lagi diperlukan atau bahkan dipandang dapat menghalangi produktivitas. Pendidikan pada intinya adalah soal sasaran dan nilai-nilai manusia, kita tidak bisa mengembangkan suatu sistem pendidikan kecuali kita terlebih dahulu mengenali pengetahuan dan keterampilan apa saja yang bernilai bagi semua orang. Anehnya banyak pembuat kebijakan bertindak seolah-olah sasaran pendidikan sudah jelas diketahui sehingga tidak perlu dicari lagi. Padahal apa yang harus kita lakukan sebagai tenaga pendidik atau dosen, pengelola dan bahkan tenaga pendidikan   harus ditentukan oleh sistem nilai kita sendiri, sementara sains dan teknologi tidak memiliki sistem nilai. Sains, dengan segala rekayasa teknik, teknologi, dan matematika, bukanlah satu-satunya bidang pengetahuan, dan bahkan bukan satu-satunya bidang pengetahuan yang penting. Kumpulan pidato Bill Gates dan Thomas Friedman sering mensitir adanya pengetahuan besar lainnya, yaitu ilmu sosial, humaniora, seni, sipil, peradaban, etik, kesehatan, keselamatan dan pelatihan kebugaran tubuh juga layak mendapat perhatian sama dan porsi yang setara dalam kurikulum. Yang berbahaya adalah, banyak orang mengira bahwa bidang pengetahuan yang lain ini, harus dipelajari dengan metode dan pembatasan yang sama dengan sains. Menurut Gardner, bagaimana mungkin seorang pemimpin politik atau bisnis akan dipercaya – terutama di masa krisis – jika yang mereka paparkan hanyalah penjelasan ilmiah dan bukti matematika, yang pesan tersebut tidak sampai pada hati pendengarnya. Bahkan pakar fisika agung Niels Bohr pernah mengatakan ironi ini, “ada dua macam kebenaran, yakni kebenaran yang dalam dan kebenaran yang dangkal, dan fungsi sains adalah menghapuskan kebenaran yang dalam”.
Untuk itu dalam pendidikan perlu dikembangkan pembinaan lima watak mental, yakni, pertama, pikiran terdisiplin (disciplined mind). Setidaknya orang perlu menguasai satu cara berpikir, yaitu suaru perilaku kognitif yang mencerminkan disiplin ilmu, keterampilan atau profesi tertentu, dalam upaya terus menerus meningkatkan keterampilan dan pemahaman. Tanpa menguasai paling sedikit satu disiplin, seseorang hanya akan mengikuti keinginan orang lain. Kedua, pikiran sintesis (synthesizing mind). Dalam hal ini orang perlu memahami dan mengevaluasi informasi secara objektif dan kemudian mampu menyatukannya dengan cara yang masuk akal yang dapat dipahami orang lain. Tuntutan kemampuan ini semakin mendesak pada saat ini dengan semakin berlipat-gandanya jumlah informasi yang datang pada kita dengan sangat cepat. Ketiga, pikiran mencipta (creating mind), yakni pemanfaatan penguasaan disiplin ilmu dan daya sintesis untuk menghasilkan hal yang baru. Suatu pikiran yang dapat melahirkan ide-ide baru, pertanyaan tak terduga, membangkitkan cara berpikir baru sekaligus memunculkan jawaban tak terduga. Pada akhirnya ciptaan itu harus membuat para konsumen berpengetahuan bersedia menerimanya. Pikiran mencipta setidaknya berada satu langkah di depan komputer atau robot secanggih apapun. Keempat, pikiran merespek (respectful mind), yakni suatu kesadaran bahwa dewasa ini orang tidak lagi terus berada dalam wilayah dan bidangnya sendiri. Mereka harus siap menyambut perbedaan individu dan kelompok manusia dengan saling memahami, agar dapat bekerja secara efektif bersama-sama. Maka dalam dunia dimana semuanya saling terhubung, sikap tidak toleran dan tidak merespek tidak lagi mendapat tempat. Kelima, pikiran etis (ethical mind), yaitu mengembangkan konsep tentang bagaimana kita bisa memahami tujuan yang berada di luar kepentingan pribadi, dan bagaimana kita dapat bekerja untuk meningkatkan kepentingan kesejahteraan bersama. Agaknya kelima pikiran ini merupakan representasi keragaman kognitif kegiatan manusia yang saat ini berkembang secara menyeluruh dan global. Maka tanpa rasa respek kemungkinan besar kita akan saling merendahkan satu dengan yang lainnya. Tanpa etika kita akan kembali ke dunia dimana orang berhak mengejar kepentingan egonya sendiri (teori Hobbes) dan orang kuatlah yang bertahan hidup (teori Darwin) dimana keuntungan bersama tidak diakui. Pendidikan dalam pengertian yang lebih luas seharusnya membantu lebih banyak manusia untuk mengenali corak-corak yang paling mengesankan dari mahluk yang paling luar biasa pada spesies kita, dan sejarah sarat dengan orang-orang yang menjadi teladan dari salah satu atau lebih jenis-jenis talenta dan spektrum pikiran original mereka, termasuk talenta dan originalitas pikiran para pendiri bangsa ini. Bangkitlah bangsa Indonesiaku! Dan bangkitlah para cendikiawan dan Ilmuwan tanah air tercinta!

INTEGRITAS DAN KEPEMIMPINAN INOVATIF

“Pandanglah bintang-bintang di langit, tetapi jangan pernah melupakan  keberadaan berbagai bunga di bumi tempat kita berpijak “( Agnew Meek – Vice President 3M Company)

Terdapat tiga faktor utama yang dapat membentuk karakter kepemimpinan, yakni kreatifitas, energi dan wawasan filosofis. Perpaduan dari ketiga faktor tersebut dapat membangkitkan daya antusiasme pada diri pemimpin, sehingga ia senantiasa bergerak dinamis dan adaptif. Enthusiasm berasal dari akar kata bahasa Yunani entheos  yang berarti “dari roh yang bersemayam di dalam”. Antusiasme dalam kepemimpinan sering juga diartikan sebagai  daya adaptabilitas – kemampuan untuk menyesuaikan diri – terhadap perubahan situasi dan kondisi, regulasi dan tuntutan lainnya. Kendati banyak situasi dan kondisi yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya, pemimpin dengan penuh antusiasme memiliki kepandaian untuk mengubah  dan menemukan cara-cara baru, sehingga keputusan yang diambilnya berjalan efektif dan efisien ketika mengatasi perbagai persoalan. Daya adaptabilitas inilah yang membentuk ketangguhan, karakter, dan integritas kepemimpinan, yakni suatu sikap yang tidak mudah menyerah, teguh dan loyal pada prinsip, namun fleksibel  dan senantiasa mencari terobosan dalam menghadapi berbagai rintangan.
Rintangan merupakan suatu persoalan  yang tak terelakkan dalam suatu organisasi, terutama saat pemimpin akan mulai melakukan inovasi. Rintangan sering menjadi menghambat akselerasi terhadap perubahan, dan oleh karena itu untuk menghadapinya diperlukan  waktu dan energi. Rintangan sering menghadang ditengah-tengah laju kreatifitas dan terkadang menghentikan ide kreatif untuk melaksanakan inovasi dalam organisasi.   Terdapat dua rintangan yang biasanya kita temui, yakni: Pertama, rintangan yang menghambat secara individual, sehingga seseorang terpengaruh dan terhenti kreatifitasnya. Kedua, rintangan yang mempengaruhi organisasi sehingga terhenti menjadi organisasi yang inovatif.
Terdapat perbedaan mendasar antara kreasi dan inovasi. Kreasi lebih merupakan ide yang dihasilkan dari seorang individu (finding about newnest), sedangkan  inovasi  lebih melibatkan lebih dari satu individu atau bersifat kelompok(implementing about newnest). Ide berasal dari individu yang kreatif sebagai masukan untuk dapat dilakukannya inovasi,. Bagi seorang pemimpin yang tangguh dan penuh antusiasme, rintangan atau tantangan sesulit apapun – dari sudut pandang falsafahnya – dimaknai sebagai “laboratorium-hidup” untuk belajar secara langsung bagaimana menghadapi kesusahan, ketidak-nyamanan dan guncangan sebagai ujian terhadap ketangguhan kepribadian dan karakter dirinya, baik ketika pemimpin berhadapan dengan masyarakat umum atau ketika merenung sendirian. Seorang pemimpin akan menyadari sepenuhnya, bahwa keberhasilan organisasi di masa depan akan sangat ditentukan oleh kepemimpinannya, terutama dalam mengoptimalkan berbagai peluang, dengan senantiasa mendorong seluruh anggota organisasi untuk berpikir ke depan, dengan menumbuh-kembangkan kreatifitas dan inovasi.
Marilah kita menengok masa renaissance di Eropa Barat pada abad 14-15M. Dimana masa sebelumnya dunia barat dianggap sedang mengalami masa kegelapan (dark age) dan ketertinggalan dari dunia timur.  Tiba-tiba masyarakat disadarkan akan kedaulatan, otonomi dan kebebasan untuk melakukan sesuatu, yang tentunya dipicu oleh para inspiratornya. Pada saat itu masyarakat menganggap adanya kewenangan dan otoritas yang terlalu kuat dari pihak institusi agama untuk mendominasi kebenaran pada berbagai disiplin ilmu dan sendi-sendi kehidupan lainnya. Karenanya gerakan “kelahiran-kembali” ditujukan untuk merealisasikan apa yang pernah hidup pada zaman Yunani kuno, yaitu titik-tolak kebebasan-berpikir yang bersumber pada manusia.
Pada belahan dunia manapun ketika kekuasaan totalitarian dan dogmatisme telah jauh menjalar ke dalam sendi-sendi kehidupan tatanan masyarakat dan melembaga menjadi norma-aturan dan hukum yang membelenggu, secara dialeketis akan menimbulkan  perlawanan dan tuntutan akan perubahan. Begitu juga yang terjadi di masa renaissance, faham teosentris begeser menjadi antroposentris, dengan paradigma baru yang menitik-beratkan pada pemikiran, pengembangan ilmu dan peradaban manusia sebagai pusatnya. Melalalui dialektika sejarah seperti itulah, terjadi perubahan asasi di dunia barat dengan tumbuh-suburnya pemikiran modern. Khususnya dalam bidang filsafat dan sains. Dengan tokoh-tokohnya, antara lain: Nikolaus Kopernikus, Yohanes Keple, Galileo-Galilei, Thomas Hobbes, dan Rene Descartes. Sementara di belahan dunia lain, terdapat bangsa yang gagal menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, seperti bangsa Indian yang telah mengalami puncak kejayaan hampir seratus tahun di bagian tenggara Amerika Serikat, kemudian mengalami masa kemunduran. Selain itu, Kekhalifahan Turki  Utsmani yang telah mengalami puncak kejayaan sebagai negara adidaya selama berabad-abad kemudian lenyap di awal abad ke-20, begitu juga dengan menghilangnya negara Jerman Timur, Yugoslavia dan Uni Soviet.
Dalam skala yang lebih kecil,  di tempat  kita bekerja pun  semangat “pencerahan” semacam gerakan  renaissancetetap diperlukan, untuk menghindari  jebakan stagnasi, kelambanan, dan kebekuan. Namun era renaissance abad ke-21 yang kita harapkan, orang tidak hanya bicara tentang individualitas dan humanisme seperti di masa Kopernikus. Orang tidak hanya menuntut  daya rasio dan intelektualitas dalam mengembangkan peradaban manusia, akan tetapi mengoptimalkan potensinya sebagai manusia secara utuh dan otentik dalam berbagai kehidupan, lebih khusus dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan yang hanya menciptakan kemampuan yang hebat,  dengan mengabaikan faktor keutuhan manusia, saat ini dipandang sebagai pendidikan yang buruk. Sehinga seiring dengan itu masalah integritas acap menjadi tuntutan masa kini. Dalam praktek persaingan keorganisasian bisnis, seringkali integritas - yang dilandasi etika dan moral – harus dikalahkan demi memperoleh manfaat dan keuntungan materialistis.


 Integritas merupakan kesadaran terpadu yang diperoleh dari penghayatan mendalam akan suatu proses  yang pernah dialami, melampaui kreatifitas, nilai, intuisi, emosi dan daya analisis-rasional.  Integritas bisa memunculkan gema, medan gaya-energi, kreatifitas, kebanggaan dan dapat diinteraksikan kepada orang lain dalam hubungan individual, kelompok, dan organisasional. Integritas merupakan ciri watak manusia yang patuh pada prinsip-prinsip moral dan etika, dalam keadaannya yang menyeluruh, penuh dan utuh. Seorang pemimpin berintegritas adalah pemimpin yang membuat komitmen dan setia kepada komitmen itu sendiri, kendati Ia harus menanggung resiko.  
Pemimpin  yang memiliki integritas akan memancarkan keyakinan pada kita semua, bahwa Ia akan berbicara tentang keyakinan dan perasaan yang sesungguhnya, kendati hal ini akan membahayakan diri sendiri dan karirnya. Namun demikian cahaya tanpa kegelapan adalah menjadi tidak lengkap, oleh karena itu seorang pemimpin yang berintegritas dituntut untuk menghadapi, menerima dan memadukan sisi alami dan cemerlang yang ditampilkan  dengan sisi gelapnya yang tersembunyi. Sebagaimana diungkapkan oleh Mahatma Gandhi, “setan paling bebahaya di dunia ini adalah setan yang selalu berada di sekitar hati kita. Disitulah tempat kita harus memerangi mereka”. Gandhi seolah mengajak kita terjun, dengan cara kita masing-masing, ke dalam kancah pertempuran yang diperlukan untuk tumbuh dan belajar.
                Dorongan perubahan untuk melakukan inovasi dalam organisasi bisa terjadi baik dari desakan internal maupun eksternal organisasi tersebut, atau muncul secara serempak. Dari sisi internal perubahan bisa saja terjadi  sebagai adanya revisi strategi organisasi oleh manajemen puncak untuk melakukan perubahan organisasi. Perubahan internal juga dapat terjadi oleh desakan  eksternal, seperti bergesernya nilai sosio-kultural dan adanya perubahan tata-cara pandang terhadap hakekat pekerjaan. Perubahan eksternal muncul dari desakan lingkungan umum organisasi seperti diberlakukannya peraturan baru yang berkenaan dengan aspek produksi, persaingan, politik, ekonomi, hukum, dan IPTEK.
Sejarah telah mengingatkan, selama perjalanan hidup pemimpin-pemimpin besar dan terkemuka telah menghadapi masa-masa yang paling sulit. Berulangkali mereka harus menghadapi rintangan-rintangan yang datang silih berganti, kemudian mereka bertahan ketika mengalami kegagalan-kegagalan dan kemunduran. Cara mereka menangani pengalaman-pengalaman tersebut sekaligus membentuk kepribadian dan kualitas integritas mereka. Kejayaan yang mereka raih, sering kali lahir  dari situasi berbahaya, dan mereka bersikap tidak kenal menyerah meski mereka telah mengalami pahitnya kesalahan dan kekalahan.
Bagi umat beragama pelaksanaan puasa di bulan ramadhan mengandung hikmah  penempaan diri, yaitu pengendalian dan penyucian diri, yang apabila mampu dilewati dengan baik, dapat disyukuri dengan perayaan Idul Fitri. Perayaan bukanlah pesta pora, melainkan memancangkan tonggak-baru integritas  pribadi dengan tekad dan niat tulus-suci (fitrah) untuk mendarmabaktikan  dirinya bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara dengan menanggalkan kepentingan ego kelompok. Semuanya pernah menngalami saat paling menyakitkan dan jatuh-bangun dalam memperjuangan prinsip yang diyakini, baik berhasil atau gagal, sampai tiba saatnya menyongsong masa-masa keemasan.

KEPEMIMPINAN SITUASIONAL

KEPEMIMPINAN SITUASIONAL

Selain dikenal oleh bangsanya sendiri, Songtsen Gampo yang hidup di Tibet sekitar tahun 591 – 650 M, tidak banyak dikenal oleh dunia luar hingga para peneliti Barat menemukan sebuah gudang rahasia berisi dokumen sejarah - yang tersembunyi selama tujuh  abad - terkubur dibalik gurun pasir di Asia Tengah. Lee Feigon, direktur East Asian Studies Department dan juga seorang profesor sejarah Colby College, menyatakan bahwa terdapat sebuah negara Tibet berdaulat yang berpusat di salah satu puncak Himalaya yang mencakup sebagian besar wilayah China, India, Nepal, Asia Tengah, dan bahkan Timur Tengah. Gampo dikenal bukan hanya selaku pemimpin militer namun juga selaku penguasa cerdik dan penuh imajinasi yang mampu memprediksi berbagai aspek kebutuhan kemaharajaannya yang sangat kompleks dan beragam, baik dalam struktur politik maupun budaya yang diperlukan untuk membangun sebuah peradaban baru.
Selama masa pemerintahannya, Gampo berhasil menguasai berbagai jalur pegunungan, sungai, dan perdagangan dalam rangka membangun sebuah ibukota yang besar dengan dilengkapi sebuah komisi khusus untuk menciptakan arsitektur kota yang unik yang belakangan ini diakui dan dikagumi seantero dunia. Ia menghormati kemajemukan warisan budaya dan terbuka menerima berbagai keragaman keyakinan dan latar belakang seseorang, dengan semangat mengembangkan inspirasi kreatif yang diperoleh dari pengetahuannya tentang negeri asing, seperti kerajaan Romawi, India, China, dan Persia. Selama masa sepuluh tahun terakhir hidupnya, keberhasilan Gampo membentuk sebuah pemerintahan yang dijalankan oleh roda perwakilan, perdagangan internasional, kaidah moral, dan dukungan terhadap hak asasi manusia. Selain itu, karya besar yang diraihnya meliputi prakarsa pembakuan bahasa tulis pertama di negerinya dan rencana pembebasan buta huruf nasional dan tak kalah pentingnya juga ia berhasil merumuskan sistem pelayanan kesehatan berasaskan tradisi-tradisi terbaik Yunani, India, dan China, serta berhasil mempromosikan suatu budaya egaliter yang acapkali oleh lawan-lawannya disebut sebagai “kerajaan perempuan”. Ditengah salah satu masa kejayaanya, ia berhasil menerapkan ajaran Dharma ke dalam pemerintahannya, yakni suatu ajaran yang menganut anti kekerasan. Melalui ajaran ini, ia berhasil mengamankan jalur perdagangan internasional, membuat kesepakatan damai yang mencakup lebih dari seratus kelompok atau negara lain, mengatasi perbedaan intelektual dan budaya, membina rasa kebersamaan dan saling pengertian, dan juga tidak kalah pentingnya menyelesaikan pertikaian masalah perbatasan melalui landasan dan formula penyelesaian secara adil dan terhormat.
Keinovatifan strategi dan taktik Gampo telah memunculkan kepercayaan dan kesetiaan para penguasa disekitarnya, dan hal ini diakui rakyatnya berkat kedalaman emosi yang dimiliki Gampo yang membuatnya ia mampu tampil secara otentik. Kedalaman emosi dan karismanya, memancar keluar sampai menjangkau kerajaan-kerajaan dan kota-kota teramat jauh, sehingga dengan pesona yang ia miliki, para pemimpin lain ingin bergabung memperjuangkan cita-cita bersama, menyangkut kemajuan perdagangan, persatuan dan perdamaian, pendidikan, dan saling menghormati terhadap perbedaan budaya dan pandangan hidup yang berbeda. Bahkan bagi kelompok lain yang masih meragukan kemampuan Gampo, belakangan kemudian malah mengakui akan cita-cita dan komitmennya sebagai negarawan yang sangat ulung. Suatu prestasi maha besar di penghujung usianya, Gampo berhasil membentuk suatu kemaharajaan yang wilayahnya berkembang mencakup hampir dua kali wilayah China sekarang, dimana pengaruh kemaharajaannya sulit tertandingi oleh Caesar, Attila atau Alexandersekalipun. Meski Gampo berulangkali menang dalam pertempuran dan peperangan melawan musuh-musuhnya, namun resiko penghianatan dan upaya pembunuhan terhadap dirinya tetap ada. Gampo mampu belajar dan menimba pengalaman dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, sehingga dalam menghadapi berbagai  kasus ia malah memberi ampunan kepada kelompok-kelompok yang menentangnya.  
Kisah dimuka ini terjadi pada ratusan tahun yang lalu, namun pengetahuan tentang kualitas kepemimpinan tidak akan pernah usang. Manusia sejak dahulu kala hingga sekarang tampil dalam sosok aspek psiko-fisik yang sama, baik sisi jasmaniah maupun ruhaniahnya, yang berbeda adalah situasi, kondisi serta zaman dan peradaban yang berbeda. Penting direnungkan disini, siapakah kita, apa yang kita perjuangkan, dan akan jadi apakah kita? Semua pertanyaan ini akan muncul pada era kapanpun. Disadari, hal-hal yang akan membangun pengaruh yang  kuat dan jangka panjang adalah dengan menata hidup kita sendiri dan menorehkan sejarah tentang kisah kita. Setiap kali kisah para tokoh sejarah itu kita renungkan, maka gaungnya akan terasa dalam diri kita, meski  bentangan sejarahnya menembus ratusan tahun yang lampau, namun kisah manusiawi para tokoh sejarah sangat akrab dengan pergulatan hidup dan batin kita, karena batin tokoh masa lampau dan diri kita memiliki substansi dan kepekaan yang sama, sepanjang kita mau mendengar dan menghayatinya sampai ke tingkat yang paling dalam. Kisah-kisah semacam itu akan menyentuh hati seseorang secara lebih bermakna dibanding kebiasaan yang acapkali  dilakukan kita saat ini, yakni cara pikir yang lebih mengandalkan alur diagram dan argumentasi rasional. Sentuhan kisah seperti itu memberikan semacam sentuhan kimia terhadap perubahan seseorang, dan didalam hati terasa adanya kerinduan akan sosok yang kita dambakan.
Kisah-kisah di atas inilah yang telah mengubah pandangan dan cara kepemimpinan beberapa tokoh bisnis terkemuka di dunia, dikarenakan kreativitas dan efektivitas yang menonjol dan juga karena kesadaran akan situasi dan kondisi yang berubah. Mereka telah melonggarkan pegangan kebiasaannya akan perencanaan dan estimasi, dengan lebih memberikan perhatian pada dialog, pengaruh, antisipasi akan perubahan dan peluang, serta mendukung berbagai prakarsa dan tanggung jawab bagi penentuan cita-cita bersama. Para tokoh bisnis tersebut telah sampai pada pemahaman yang hakiki tentang bersatu dan terpadunya tujuan hidup dengan tujuan bisnis, dengan mempercayai adanya gelombang kecerdasan baru dari perpaduan antara akal-pikiran, emosi, kreativitas, dan praktek-praktek bisnis dalam suatu keselarasan tertentu. Gaung dari keterpaduan dan keselarasan ini akan terus memancarkan pusaran pengaruhnya ke berbagai penjuru, dan berpusat dari diri seseorang, menembus sistem serta memancar ke luar dan kembali kepada diri orang itu sendiri.
Dengan demikian, kekuasaan sejati seorang pemimpin bukanlah terletak pada kemampuannya sampai sejauh mana pemimpin tersebut dapat menghancurkan lawan-lawannya, akan tetapi sejauh mana ia mampu untuk mempengaruhi orang lain. Sebagaimana diungkapkan oleh John Kotter,Professor mata kuliah kepemimpinan di Harvard University, bahwa dewasa ini untuk menyelesaikan segala tugas manajer dan eksekutif, adalah dengan menjalin akses ke berbagai macam kekuasaan serta terus menanamkan pengaruh yang lebih besar, daripada sekedar hanya memiliki kemampuan menerima dan memecat pekerjanya serta mengatur anggaran belanja belaka. Di abad ke-21 ini, tidak sedikit tokoh bisnis dari berbagai penjuru dunia yang berhasil memiliki pengaruh yang kuat dalam membangun kerajaan bisnis mereka. Banyak diantara mereka memancarkan semacam perasaan khusus, yang merupakan perpaduan antara dorongan nurani dan kecerdasan emosional yang mudah dirasakan orang lain dan mendorong mereka untuk menanggapinya dan hingga saat ini kisah-kisah mereka masih terus menggugah banyak orang di seantero dunia.
Terkadang, pengetahuan seseorang menjadi pagar penghalang terhadap tumbuh kembangnya pencerahan hati bagi orang lain. Sejak masa kecil, seseorang dijejali pengetahuan bahwa membaca, menulis, dan berhitung adalah keahlian yang sangat penting. Mereka diajarkan untuk mengambil keputusan, menganalisis, menyelesaikan masalah, berpikir secara rasional, merencanakan, mengatur, tepat waktu, memelihara dan mengendalikan diri sendiri. Disamping itu, mereka diajarkan pula untuk menjadi dan bersikap dewasa, bias memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, apa itu di atas apa itu dibawah, apa itu di dalam dan apa itu di luar. Pendeknya, seseorang diajarkan untuk menerima pengetahuan formal begitu saja, sekedar untuk dapat bertahan hidup. Berfikir formal seperti demikian, sering meredupkan daya kreativitas dan perubahan seseorang, karena terbiasa menerima begitu saja apa yang telah digariskan para pendahulu mereka. Sementara kreativitas adalah mengerjakan sesuatu dengan cara yang berbeda, mencapai suatu hasil dengan cara yang berbeda, berpikir sebelum mengerjakan sesuatu dan mencari alternatif tindakan dari perspektif yang berbeda-beda. Perspektif inilah yang acap kali dilakukan oleh para pemimpin besar, sehingga gagasan dan prakarsa mereka memiliki orisinalitas dan berdampak luas jauh ke depan. Mereka sering dikatakan menentang cara berpikir dan menggoyahkan asumsi-asumsi masyarakat pada zamannya. Seyogyanya kita juga harus mampu mengubah kebiasaan, mempertanyakan peraturan, menghilangkan kekhawatiran yang terlalu berlebihan, tentang bagaimana seandainya sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Keberanian melakukan terobosan adalah sesuatu hal yang sering dilakukan oleh pemimpin besar sepertiSongtsen Gampo, meski hal itu terjadi beberapa ratus tahun yang lalu.
Salah satu yang perlu dipelajari dan dikaji dari kehidupan pemimpin besar masa lalu, termasuk Gampo, salah seorang pemimpin Tibet yang pernah hidup seribu tiga ratus tahun yang lampau, adalah bahwa masing-masing pemimpin pernah mengalami rintangan dan hambatan, bahkan ancaman yang datang dari berbagai penjuru. Kesemua hal itu tidak membuat mereka menyerah, meski terkadang diatasi dengan sedikit kekerasan, dan sering dengan tekad kemauan dan pengaruh, namun sebagian besar diselesaikan dengan kreativitas dan kejeniusan serta pemilihan “timing” yang tepat. Tidak disadari, bahwa sebenarnya mereka telah meninggalkan suatu warisan yang sangat berharga, yaitu karisma emosi serta pengaruh yang timbul karenanya. Kedalaman hati para pemimpin inilah, dan bukan karena kehebatan mereka dalam adu argumentasi, yang membuat mereka memancarkan cahaya, yang dapat membuat banyak orang meninggalkan kegiatannya, demi untuk menyaksikan pesona sang pemimpin, sebagai figur yang dapat mengubah hidupnya.
Makin banyak seseorang belajar tentang masalah, situasi dan kondisi yang dihadapi pada zamannya, maka ia akan semakin menyadari bahwa kesemuanya itu tidak lagi dapat dipahami dalam keadaan statis dan terisolasi, diperlukan adanya adaptabilitas kepemimpinan situasional, yang memahami bahwa setiap sikap, emosi, dan tindakan yang ditunjukkan baik oleh dirinya dan orang lain dapat menciptakan pengaruh dan imbas terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan mengenali dan memahami permasalahan yang tengah dihadapi adalah merupakan bagian dari sistem-sistem tempat dimana seseorang memainkan peran aktif. Dengan menjalankan kepemimpinan situasional, kita tidak akan terlebih dahulu meminta orang lain untuk berubah, tetapi melalui dirinyalah situasi yang tengah dihadapinya akan berubah. Setiap manusia perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang terlalu dipaksakan baik kepada diri sendiri ataupun orang lain, akan berakibat gagal, fatal dan bahkan bisa menimbulkan suatu bencana. Perlu kita ingat dan camkan: “Berikan kepada dunia milikmu yang terbaik, maka yang terbaik pun akan kembali kepadamu”.

KAIDAH - KAIDAH UTAMA MANAJEMEN

Untuk mengingatkan atau mengulang kembali kaedah-kaedah manajemen yang sering terungkap (utama) dalam pembahasan konsep-konsep dasar manajemen, maka dengan penuh kerendahan hati kami memaparkan sekelumit butir-butir bahasan berikut ini.
  • Kaidah-kaidah utama manajemen memadukan topik-topik mutakhir dan tradisional serta mengorganisirnya disekitar pendekatan fungsional, atau proses manajemen. Meskipun pendekatan lain telah dikembangkan, pendekatan fungsional atau proses ini tetap merupakan sebuah kerangka kerja yang bersifat umum, dan fleksibel untuk menggabungkan berbagai sudut pandang berkenaan dengan kaedah-kaedah utama manajemen.
  •  Kaedah-kaedah utama manajemen ini ditujukan bagi para manajer pemula dan berpengalaman yang berusaha mencari informasi termutakhir berikut tinjauan yang melandasinya. Selain itu, hal ini ditujukan pula bagi para profesional termasuk pendidik dan teknikal yang bekerjasama dengan kalangan manajer dan/ atau perlu melaksanakan aktivitas manajemen.
Pemaparan berkenaan dengan kaedah-kaedah utama manajemen, kami bagi ke dalam enam butir yang riciannya seperti berikut ini,

Butir I. Pengantar Manajemen, yang mencakup:
  • Manager Jobs: Menjelaskan sifat dari aktivitas manajerial dengan suatu penekanan khusus pada fungsi, tugas, wewenang, dan tanggung jawab manajerial.
  • International Management and Cultural Diversity: Menjelaskan cara kerja para manajer dan profesional lainnya di dalam lingkungan keragaman kebudayaan.
  • Information Technology and the Internet: Menjelaskan bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (ICT), termasuk Internet dan e-commerce, mempengaruhi aktivitas seorang manajer.
  • Ethics and Social Responsibility: Menjelaskan berbagai aspek moral dan etika dalam ruang lingkup manajemen, yang mencakup pula cyber-ethicsdan netiquette, atau perilaku yang dapat diterima dalam penggunaanInternet dan e-mail pada khususnya.
 Butir II. Perencanaan, yang mencakup:
  • Essential of Planning: Menjelaskan kerangka kerja umum dalam aktivitas perencanaan seorang manajer, termasuk pula bagaimana memadukanInternet kedalam aktivitas tersebut.
  • Problem Solving and Decision Making: Menjelaskan dasar-dasar pengambilan keputusan, dengan suatu penekanan pada kreativitas dan aspek-aspek keperilakuan lainnya.
  • Quantitative Techniques for Planning and Decision Making: Menjelaskan berbagai teknik kuantitatif dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, seperti analisis titik impas, PERT, dan metode penjadualan produksi barang dan/ atau jasa.
 Butir III. Pengorganisasian, yang mencakup:
  • Job Design and Work Schedules: Menjelaskan bagaimana berbagai aktivitas dipersiapkan, disusun, dan dijadualkan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kepuasan pelanggan.
  • Organization Structure, Culture, and Change: Menjelaskan bagaimana berbagai aktivitas dituangkan dalam suatu struktur organisasi, bagaimana membangun budaya organisasi, serta bagaimana mendinamisasikannya terhadap perubahan-perubahan lingkungan eksternal.
  • Staffing and Human Resource Management: Menjelaskan berbagai metode dalam merekrut sumber daya manusia ke dalam organisasi, untuk kemudian dilatih, dan dievaluasi; dan akhir-akhir ini termasuk pula bagaimana intervensinya, seperti hak tunjangan, dalam rangka mempertahankan dan mengikat sumber daya manusia (retensi).
Butir IV. Pengarahan, yang mencakup:
  • Leadership: Menjelaskan berbagai pendekatan yang berkenaan dengan aspek kepemimpinan yang perlu dimiliki bagi seorang manajer, termasuk bermacam keterampilan dan karakteristik pribadi yang dapat memberikan kontribusi pada efektifitas kepemimpinan.
  • Motivation: Menjelaskan tentang apa yang dapat dilakukan seorang manajer untuk meningkatkan bawahannya kearah pencapaian sasaran kerja.
  • Communication: Menjelaskan tentang kompleksitas permasalahan yang dihadapi dalam penyampaian dan penerimaan pesan yang akurat; termasuk pula hambatan-hambatan dalam berkomunikasi seperti percakapan yang tidak jujur, dan tidak efektif di tingkat global.
  • Teams, Groups, and Teamwork: Menjelaskan berbagai karakteristik yang perlu dimiliki pada kerja tim (beregu) dan bagaimana mengembangkan anggota tim untuk bekerja secara kooperatif.
Butir V. Pengendalian, yang mecakup:
  • Essential of Control: Menjelaskan suatu tinjauan atas pengukuran dan pengendalian kinerja organisasi; termasuk disini bagaimana seorang manajer memonitor kinerja tersebut melalui serangkaian rasio-rasio keuangan.
  • Managing Ineffective Performers: Menjelaskan berbagai pendekatan berkenaan dengan penanganan kinerja manajer yang tidak atau kurang efektif agar dapat diperbaiki dan/ atau ditingkatkan.

Butir VI. Mengelola Kesuksesan Individu, yang mencakup:
  • Enhancing Personal Productivity and Managing Stress.
Butir terakhir ini menjelaskan bagaimana kesuksesan individu dapat dipertahankan dan/ atau ditingkatkan melalui pengembangan deskripsi dan tata kerja, serta penerapan manajemen waktu dan last but not least bagaimana mencegah dan mengendalikan stress atau tekanan kerja.